Politik Dalam Virus

Kegerahan masyarakat awam yang lugu dalam menyikapi pandemi semakin nampak ke permukaan. Warga sudah mulai acuh tak acuh dalam mengahadapi kehidupan, kita sering mendengar pengambilan paksa jenazah terduga covid 19 di berbagai daerah. Kegerahan ini mengakibatkan teori-teori konspirasi muncul dalam berbagai kalangan, ada yang bilang bahwa covid 19 itu tidak ada, hanya senjata biologis, depopulasi oleh kaum ‘elite global’. Itu semua bentuk dari kegerahan masyarakat yang terealisasi dalam banyak bentuk.

Bukan tanpa sebab, tarian virus Corona ini menimbulkan ketimpangan dalam masyarakat, baik dalam aspek sosial dan terlebih ekonomi. Para pekerja harian yang kehilangan kesempatannya hingga karyawan karyawati perusahaan yang harus diPHK. Dan bisa jadi, situasi yang seperti ini memberikan ‘kejut listrik’ bagi setiap individu yang terdampak. Saat seperti inilah kita semua diasah untuk menjadi lebih baik atau bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi terpuruk.

Orang-orang yang kreatif akan menemukan banyak peluang bisnis dalam kondisi seperti ini, sementara orang lain mengeluh dengan keadaan. Tetapi itulah yang namanya ‘mindset’, tidak semua orang berpikiran sama. Di berita tidak jarang kita dengar orang mengeluh ini itu, atau bahkan sampai mendemo pemerintah sebagai ungkapan mencari cari ‘ini salah siapa?’, tidak usah heran, memang begitulah manusia sebagai ‘zoon politicon’, karena itu kita akan selalu mencari berbagai cara termasuk cara yang paling jelek untuk bertahan hidup, apa lagi dalam masa krisis seperti ini.

Permainan politik akan selalu ada dengan cara baik ataupun buruk, begitu pula maksud dan tujuannya tidak mengenal dalam masa pandemi ataupun tanpa pandemi. Semua itu terjadi didalam segala kalangan. Karena manusia secara naluriah akan melindungi diri dan kelompoknya. Makanya wajar-wajar saja bila terdapat banyak ‘settingan’ dimana-mana yang sudah jelas tujuannya untuk menggiring opini publik, baik itu hal positif maupun negatif. Dan jika kita jeli melihat maka hanya akan ditemukan 2 golongan (dalam situasi apapun) yakni golongan pro dan golongan kontra.

Sampai saat ini penulis berkeyakinan bahwa di negara manapun pasti memiliki kedua golongan ini. Terlebih di negara-negara Demokrasi. Begitu juga dengan negara kita, Indonesia tercinta ini.

Sudah sejak munculnya manusia dalam sejarah peradaban Nusantara, kita bisa menemukan kedua golongan ini dalam setiap kisah-kisah sejarah yang biasa diajarkan dalam sekolah-sekolah. Begitu mudahnya suatu bangsa terpecah belah oleh karena adanya dua golongan ini. Dan dengan semua keadaan seperti itulah nenek moyang kita memakan mentah-mentah buah pahit ‘devide et impera’.

Terlepas dari konspirasi internasional tentang virus covid 19, seharusnya kita peduli pada bangsa kita sendiri. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik? Sejarah kita memiliki semua pengalaman yang baik jadinya bila kita pelajari, supaya terhindar dari hal-hal buruk.yang mewarnai sejarah peradaban ini. Jangankan covid 19, kata-kata yang tak tepat pun bisa dengan mudah memecah belah bangsa ini. Ada satu hal.yang memang harus kita lawan, dan perlawanan itu tidak akan berguna tanpa persatuan. Satu hal itu ialah mereka yang dengan sengaja menyebarkan isu-isu konstitusi, agama, ras, dan segala hal yang bisa memecah belah kita semua, merekalah yang harus kita habisi agar kelak anak cucu kita tidak mengutuki apa yang kita lakukan hari ini yang mengakibatkan banyak kejadian buruk terjadi di masa depan.

Untuk semua masyarakat yang mengalami kesulitan selama masa pandemi ini, buang jauh-jauh mindset ‘menyalahkan orang lain’, karena itu semua hanya akan membuang-buang waktu untuk berpikir kreatif. Hal terbaik yang bisa kita mulai adalah dengan berpikir positif. Anggap semua kejadian ini sebagai kesempatan untuk menemukan peluang usaha yang lebih baik lagi, sehingga taraf hidup kita berubah menjadi lebih baik, bukankah ada pepatah bahwa masalah hidup kita tidak akan melampaui kemampuan kita? Percayakah kita dengan itu semua? Hanya masing-masing pribadi lah yang mampu membuktikan.